14 Mei 2009

lagi Reunion

“Berapa no Frenmu ? MN mau telp “ sebuah pesan singkat menggetarkan hp. Sekejap aku pun membalasnya. Dan tak lama kemudian dering Tunjukanlah rasa cintamu menandakan sebuah panggilan masuk. “gimana kabarnya” sebuah sapaan dengan logat khas dari mantan bosku. “saya telp balik saja pak” balasku. Pembicaraan pun mulai mengalir. Mantan bosku sedang berada di Jakarta-training selama dua hari beliau menginginkan second reunion.

Sudah setengah tahun beliau dipindahkan tugas di semarang. Mumpung di Jakarta dan ada celebrating seorang kawan kenapa tidak ngumpul? Oke! Aku pun segera mengontak indri, untuk seting tempat di daerah kelapa gading. Dan dengan segera pesan pun berlanjut ke udin yang merupakan penguasa daerah sana.


Selasa sore, seperti biasa aku harus ke cabang. Dan karena sudah sepakat reuni di daerah klapa gading aku pun meminta untuk ke cabang rawamangun. Namun rencana tidak berjalan mulus jam satu siang MN member kabar bahwa venue di pindahkan ke pasar festival kuningan. Sms berantai pun segera berputar.

Aku sendiri gak janji kalau venue pindah ke sana akan datang. Maklum terlalu jauh dan macet, beruntunglah IL pun merasakan yang sama sehingga dia pun akan nego dengan MN. Tepat satu jam sebelum acara digelar sebuah sms masuk. “update info meeting dialihkan ke rumah makan Gurih” . dan seperti biasa sms berantai kembali berputar.

Tepat jam 7 setelah acara di cabang selesaim aku pun segera meluncur ke tempat acara. Hanya perlu 10 menit untuk sampai di sana. Telah menunggu bung Roma-begitu sapaanku untuk mba yanti dan juga pak samto serta satu orang yang tak kukenal yakni pak catur-mantan PM di ex companyq. Selang berapa lama semua peserta sudah datang kecuali indri-adiknya masuk RS. Kisah demi kisah mulai menggulir, gelak tawa pun menjadu bumbu yang segar. Tak terasa restoran mau tutup, lagu batak yang dari awal mengringi pun sudah lama berhenti. Kami pun segera bubar. Berharap dua atau tiga bulan ke depan bisa di gelar lagi.



Read More......

11 Mei 2009

Rider

Sebuah MX melesat menyalip, rider yang satu ini mungkin tentara, terlihat dari sepatu pentophel dan jas hujan loreng yang dikenakannya. Adrenalinku pun meningkat gerakan MX pun tak henti kukejar menyelinap dan meliuk-liuk di kelokan cimahi yang cukup crowded siang itu. Performa motor sama, aku pun tak mau kalah. Jadilah dua MX berkejar-kejaran. Posisi pun kupertahankan supaya terus berada persis di belakangnya.

Seru! Serasa ikut GP, namun sayang tak berlangsung lama, arena pasar padalarang tak pelak membuat macet jalan, sang MX di depan sekejap menyelinap di antara truk. Sebenarnya masih bisa dikejar tetapi premium di motorku seusai prediksi habis tepat di SPBU padalarang. Perseteruan pun berakhir. Beruntunglah SPBU ini seakan terminal, rider yang akan ke Jakarta mengisi full bahan bakar di sini. Banyak yang masih bisa di ajak duel.



Kelokan citatah hal yang kusuka selain nagreg. Tikungan-tikungan tajam semakin membuat perjalanan mengasyikan. Terlebih hanya sendiri aku pun bisa dengan bebas memacu kuda besi melibas semua “lawan”. Tepat di perbatasan bandung, di kejauhan terlihat rombongan tiger. Cukup banyak. Mereka cukup arogan dengan mengambil tengah jalan dan membentuk satu garis. Beruntunglah barisannya sedikit terkoyak sehingga aku pun bisa masuk ke dalam barisan dan mendekati kepala konvoi. Beberapa pengendara menyuruhku untuk menepi dan mebiarkan mereka duluan. ‘siapa kamu?’ pikirku ? toh ini pun bukan jalan milikmu. Kuda besi pun makin kubesut hingga akhirnya barisan konvoi pun bisa kusalip jauh!

Matahari terus bergulir, sempat bimbang apakah lewat uncak atau jonggol. Maklum terdengar ceriat mengerikan kalau lewat jonggol. Lebih cepat sebenarnya tetapi takut ada gangguan maklumlah jalanannya sangat sepi selain itu beberapa ruas rusak parah. Terlebih hari sudah menjelang senja. Setelah berhenti sejenak, akhirnya ku putuskan melalui jonggol toh konvoi di belakang pun sangat banyak pikirku.

Tak hentinya gas kutarik semaksimal mungkin. Target jangan sampai kemalaman di jonggol. Satu per satu rider yang searah terlewati jua. Cukup melelahkan karena ketidakpastian dimana ujung trek ini berakhir. Ini merupakan kali kedua melewati jonggol. Setahun yang lalu pernah melewati jalur ini tetapi posisiku hanya sebagai tandem sehingga tidak terlalu hapal medan jalan.

Terlampaui sudah, sebelum sempat matahari terbenam jalur jonggol pun sudah kutinggalkan. Memasuki Jakarta kemacetan sudah terbaca, terlebih di mekarsari baru saja selesai acara Hi-Hip Hura. Tak pelak macet pun terjadi sudah. Yang lebih gawat hampir terjadi tawuran. Beberapa anak muda yang mungkin merasa dilecehkan melempari sebuah truk yang berisi anak muda yang mungkin mengejek. Lemparan batu dan kayu melesat menghantam truk dan mobil-mobil yang berada dalam kemacetan. Aku pun dengan cepat menghentikan langkah. Membuat jarak denagn sang truk yang menjadi korban. Beruntunglah ada seorang tua yang berani turun di tengah jalan dan menantang duel kepada sang pelempar.

Tepat jam 6 sampai juga di rumah sang kakak. Perjalanan yang vukup mengasyikan. Membesut kuda besi 5 jam nonstop garut-jakarta. Sebenarnya malas juga karena pasti capek. Tapi karena sang kakak sebelumnya mengajak pulang untuk bermotor pikirku tak mengapa. Ternyata sang kakak telah mengambil cuti seminggu sehingga dia pun belum mau pulang. Dan jika dia yang bawa wah malah lebih was-was. Terpaksa single fighter! RIDE !






Read More......

3 Mei 2009

Cara Memimpin

Indonesia sedang panas berkoalisi untuk menjadi orang nomor satu di negeri. Ya pertarungan masih jauh tapi ancang-ancang harus dimulai dari sekarang. Bagi anda yng menjadi pemimin di sebuah perusahaan maupun organisasi, Bagaimanakah cara anda memimpin ? berikut tipe atau gaya memimpin dari Rhenald Kasali

1. Tipe Direktur
Tipe ini sangat mungkin diterapkan pada organisasi tertutup yang eksekutifnya cenderung otonom, memiliki kapasitas yang tidak terbatas dalam melakukan perubahan. Direktur dapat menggerakkan seluruh sumber daya, memberikan arah, visioning, melakukan imlementasi dan mengendalikannya.


2. Tipe Pelatih (Motivator)
Dalam keadaan yang relatif terbuka, untuk menghindari terjadinya chaos, dan sekaligus untuk mengubah budaya, pemimpin dapat saj menerapkan cara yag lebih halus yaitu dengan pendekatan shaping. Dalam pendekatan ini pemimpin menjalankan peran sebagai motivator selayaknya seorang pelatih pada tim olahraga. Ia tidak turun sendirian tetapi duduk di pinggir lapangan memberikan arahan, member inspirasi sekaligus menyemangati anggota timnya.

3. Tipe Navigator
Di sini lingkungan sedikit trekendali sehingga hasil yang dicapai tidak 100%dapat diselesaikan. Oleh karenanya, pemimpin mengunakan beberapa scenario dalam menangani organisasinya. Seperti orang yang mengendalikan pesawat atau kapal besar, maka ia tahu persis bahwa dirinya tidak dapat mengubah arah angin. Sebagai pemimpin, nakhoda harus melakukan sesuatu. Jika dia tidak dapat mengubah arah angin, maka I arah kapal harus disesuaikan.

4. Tipe Penerjemah
Di sini pemimpin menghadapi persoalan yang sama, hanya saja ia mengambil peran sebagai penerjemah, yaitu member tafsiran-tafsiran terhadap segala sesuatu yang tengah terjadi, baik di dalam organisasi maupun di luar. Ia sadar betul bahwa dirinya tidak punya kuasa penuh, tetapi ia punya kecerdasan membaca “tanda-tanda zaman” dan memberikan visi untuk berubah. Selebihnya anggota tim harus bekerja sendiri untuk menyelesaikannya.

5. Tipe Pejabat Sementara (Carateker)
Menyadari keadaan lingkungan begerak liar dan diwarnai konflik, serta tidak dapat dikendalikan, pendekatan control menjadi serba salah. Tetapi eksekutif ini masih dapat menggerakan bawahannya agar bertindak entrepreneurial dan inovatif sehingga sasaran menjasi lebih mudah dicapai. Ia masih bisa merasakan bahwa organisasi sedang berada dimana dan oleh karenanya dapat dikendalikan dengan car yang berbeda-beda.

6. Tipe Perawat (nurturer)
Seperti seorang peawat pemimpin tipe ini meposisikan dirinya untuk menjaga dan menemani pasien yang sakit, hidup tanpa harapan dan member harapan agar tetap semangat. Karena pasiennya sedang sakit maka ia tidak bisa bergerak tegas seperti seorang pelatih. Barangkali tugasnya sekedar member harapan karena hanya itulah yang masih dimiliki pasien. Ia masih mengalami kesulitan memimpin karena organisasi dan lingkungannya benar-benar chaos. Tak ada yang bisa menerka seberapa besar ia akan berhasil.



Read More......